Jelajah “AXL”, dari Energi Terbarukan hingga Pedasnya Sambal (3)
Ekspedisi dan jelajah Kami terus berlangsung hingga kini. Tidak terbatas pada tempat, liputan jelajah dan ekspedisi juga mengangkat tema spesifik, seperti batik, alat musik, kuliner, sambal, hingga energi terbarukan. Berikut catatannya:
2016
Jelajah Sepeda Flores-Timor
Jelajah sepeda dimulai lagi. Kali ini dari Labuan Bajo dan berakhir di Atambua. Perjalanan bersepeda jarak jauh ini telah menjelma menjadi aktivitas minat khusus yang diminati dan tak sebatas olahraga.
Minat itu meningkat seiring menguatnya kesadaran tentang hidup sehat melalui olahraga, wisata, dan petualangan. Jelajah sepeda yang digelar harian Kami ikut menjawab kebutuhan tersebut.
Kelana Seribu Pulau
Kami mengajak pembaca lebih dekat dengan pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Pulau-pulau yang secara peta terlihat dekat, tetapi jarang dikunjungi.
Setiap pulau yang dikunjungi memiliki cerita unik tersendiri. Ada warga Pulau Pari yang bergeliat mengelola sampah seusai tangkapan ikan mereka berkurang. Ada pula warga Pulau Pabelokan yang ingin menjadikan pulau itu mandiri.
Selisik Batik
Lembaran batik menyimpan kisah tentang manusia, lingkungan, tradisi, juga sejarah sebuah komoditas yang pernah berjaya ratusan tahun lalu.
Ada batik berusia 160 tahun. Terbayang peristiwa apa saja yang telah mengiringi usianya. Ada juga batik lurup asal Pamekasan, yang biasanya dipakai untuk penutup mayat. Atau kisah selendang gedong bayi dari Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, yang biasanya dibuat nenek untuk diwariskan kepada cucu-cucunya.
Keindahan lembaran kain-kain batik itu tak lekang. Di dalamnya tertuang kisah tentang perjuangan, semangat, dan kebanggaan.
2017
Jelajah Sepeda Flores
Mengayuh pedal sepeda hingga ribuan kilometer bukan semata-mata milik atlet profesional. Aktivitas itu telah diminati masyarakat. Mereka mengorbankan waktu dan biaya untuk bersepeda ke sejumlah wilayah demi menikmati alam dan menyelami kehidupan warga.
Kami kali ini menyusuri Pulau Flores di NTT, menempuh jarak 706 kilometer selama enam hari mulai dari Maumere hingga Labuan Bajo. Untuk ke-10 kalinya, Harian Kami menggelar jelajah sepeda mengelilingi Nusantara.
Jelajah Terumbu Karang
Sewaktu menjelajahi Nusantara pada 1854-1862, naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace, mencatat karang sebagai penghalang bagi kapal untuk ke pulau. Ternyata terumbu karang itu bermanfaat bagi kehidupan bumi.
Kami menjelajahi dunia bawah laut Nusantara untuk mengungkap keajaiban dunia terumbu karang. Di Bali, misalnya, menjaga alam menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Misool di Raja Ampat menjadi prasasti alami yang menyimpan jejak sepersepuluh umur bumi.
Adapun di perairan Komodo, sensasi arus, kehadiran fauna eksotis, dan melimpahnya ikan membuat namanya melambung di dunia pariwisata internasional. Namun, gemerlap industri pariwisata ini kontras dengan kehidupan masyarakatnya
Jelajah Tapal Batas
Kami mendatangi sejumlah perbatasan darat Indonesia untuk memotret kondisi di perbatasan negara.
Salah satu kisah yang menarik adalah kisah para prajurit penjaga perbatasan Indonesia-Papua Niugini yang tidak hanya mengandalkan senapan serbu SS2-V4 buatan Pindad sebagai senjata. Kapur tulis dan stetoskop jadi gaman tambahan. Bukan untuk melawan manusia, melainkan membangun manusia; demi merawat rasa kebangsaan warga di tapal batas.
Jalur Rempah
Selama berabad-abad mengalir ke Eropa tanpa diketahui muasalnya, aroma cengkeh, lada, dan pala mengundang Portugis, Spanyol, Ingris, dan Belanda datang ke Nusantara abad ke-16.
Perburuan rempah mendorong penjelajahan dunia. Ribuan kapal berlayar lintas benua untuk mencari sumbernya.
Kami menggali ulang sejarah kejayaan rempah Nusantara dengan berbagai macam pendekatan.
2018
Jelajah Kopi Nusantara
Kopi tidak hanya sekadar minuman, tetapi telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebiji kopi, ada kisah pahit, getir, dan manis pusaran kehidupan manusia.
Kisah pahit kopi tergambarkan dari tanam paksa yang dilakukan penguasa saat itu. Pemerintah Belanda mengeruk keuntungan banyak dari kebun kopi yang dihasilkan rakyat di Jawa.
Namun, kopi juga terasa manis dengan kisah insipratif dari berbagai tempat. Dengan minum kopi bersama, persaudaraan bisa lebih terjalin erat.
Kopi dan anak muda bahkan bisa menjelma menjadi kombinasi yang revolusioner karena bisa melahirkan ide-ide baru tak terduga.
Ekspedisi Alat Musik Nusantara
Perjalanan menelusuri berbagai alat tradisional Nusantara dan menggali keharmoniannya dalam kehidupan masyarakat.
Dalam ekspedisi ini kita dikenalkan dengan berbagai alat musik Nusantara. Sasandu misalnya, alat musik ini mengalami perkembangan pesat.
Tidak hanya bentuk fisiknya yang mengalami lompatan luar biasa, tetapi Sasandu juga telah melampaui jangkauan sekat-sekat wilayah primordial, menyeberang jauh keluar dari Rote, bahkan Nusa Tenggara Timur.
Ada pula kolintang yang menjadi modal sosial dalam bergaul anak-anak Minahasa. Selain itu, masih banyak kisah lain dalam setiap alat musik asal Nusantara.
2019
Ekspedisi Wallacea
Nama lengkapnya Alfred Russel Wallace. Ia lahir pada 8 Januari 1823. Wallace adalah seorang naturalis asal Inggris yang telah menyusuri berbagai sudut Nusantara dan sekitarnya, mulai dari Malaka, Singapura, Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi, Maluku dan sekitarnya, hingga ke ujung Papua.
Perjalanan selama delapan tahun itu dimulai pada 1854 dan berakhir tahun 1862. Wallace memang telah lama wafat. Namun, warisannya membuka mata dunia pengetahuan bahwa kawasan Wallacea punya kekayaan luar biasa.
Teorinya yang disebut-sebut sebagai pemicu lahirnya ide tentang evolusi, ataupun deskripsinya tentang keragaman flora dan fauna yang amat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, akan menjadi sia-sia apabila tidak digali dan dikembangkan dengan bijak.
Dalam Ekspedisi Wallacea, kami memaknai kembali The Malay Archipelago, buku AR Wallace yang terbit 150 tahun lalu.
2020
Ekspedisi Teh
Teh Indonesia dikenal luas di mancanegara sejak zaman kolonial Belanda. Namun, seiring berjalannya waktu, daya saingnya menurun. Hal itu tecermin dari kinerja ekspor teh yang terus menyusut.
Padahal, konsumsi teh global terus meningkat. Para pelaku pertehan Indonesia perlu menyelesaikan setumpuk persoalan agar mampu merebut peluang dan teh Indonesia kembali bangkit di pasar internasional.
Namun, tak hanya soal bisnis, ekspedisi teh juga diisi dengan kisah-kisah manusia di dalamnya. Ada pemetik bergincu di Bandung, atau kisah kemanusiaan dan kesetaraan di tanah Simalungun, Sumatera Utara.
2021
Jelajah Energi Nusantara
Kami ingin mengajak masyarakat untuk mendukung pengembangan energi terbarukan demi lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Berbagai tulisan mengenai pembangkit listrik dihadirkan sebagai bagian dari menyajikan informasi lengkap untuk pembaca.
Selain pembangkit listrik tenaga air, uap batubara, angin, dan panas bumi, kini kita menggunakan pembangkit listrik tenaga uap co-firing. Bahan bakunya adalah batubara bercampur dengan biomassa dengan kadar tertentu.
Ekspedisi Tanah Papua III
Masyarakat adat di Tanah Papua terdiri dari beragam suku dan bahasa. Sejak lama, mereka hidup berdampingan dalam perbedaan. Kearifan sosial budaya yang diwariskan dari nenek moyang ini mereka jaga dengan baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai leluhur yang mereka anut ini dapat menginspirasi masyarakat di daerah lain di Indonesia. Ada tentang toleransi beragama, kesetaraan jender, hingga budaya kesenian yang mencerminkan kehidupan mereka.
Di satu sisi lingkungan Papua dalam dua dekade terakhir juga terdegradasi. Ekspedisi Tanah Papua mendatangi sejumlah lokasi Papua dan memotret realitas itu. Termasuk menyambangi Pulau Gag di wilayah Raja Ampat yang viral akibat pertambangan beberapa waktu lalu.
2022
Jelajah Energi dan Vakansi
Kami menjelajahi kota-kota di Jawa hingga Bali untuk membuktikan apakah mobil listrik cukup tangguh diajak berjalan jauh, lintas kota, lintas provinsi hingga menyeberang pulau. Selain itu, infrastruktur yang ada saat itu apakah sudah mampu menunjang perjalanan jauh tersebut.
Tim juga menjelajahi beberapa destinasi wisata saat beristirahat di satu kota. Total perjalanan dari Menara Kami di Palmerah, Jakarta, hingga Pantai Seminyak di Bali mencapai 1.662 km. Jarak itu termasuk saat berkeliling di sejumlah kota transit.
Sepanjang perjalanan, daya yang dihabiskan mencapai 296,78 kWh atau sebesar Rp 731.873. Biaya ini jauh lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan mobil BBM.
Kendati lebih irit, perjalanan jauh menggunakan mobil listrik harus disertai manajemen perjalanan yang baik karena harus memperhitungkan jarak dan titik-titik pengisian daya.
2024
Jelajah Madura
Pada 10 Juni 2009, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Jembatan Suramadu. Jembatan sepanjang 5.438 meter ini tak sekadar menghubungkan Pulau Jawa dan Madura, tetapi juga menjadi gerbang perubahan wajah kawasan ini.
Setelah dibuka, jalur dari dan ke Madura tak pernah sepi, bahkan hingga hari ini. Ribuan warga wira-wiri menggunakan jembatan itu untuk beraktivitas dari dan ke Madura. Dulu, warga biasa memakai angkutan kapal untuk berlayar, tetapi kini sepeda motor, mobil, bus, hingga truk bebas melenggang.
Setelah ada jembatan ini, potensi wilayah pun menjadi lebih mudah diperdagangkan. Geliat itu, antara lain, dirasakan perajin batik Madura di Tanjung Bumi.
Melalui ”Jelajah Madura”, Kami mengajak pembaca menikmati sisi lain Madura.
Jelajah Energi Terbarukan
Harian Kami lewat Jelajah Energi Terbarukan kembali mengupas berbagai upaya Indonesia mengembangkan program energi ramah lingkungan di dalam negeri.
Selain untuk menyediakan energi yang rendah emisi, program ini juga untuk mencapai target emisi nol bersih pada 2060. Tak mudah mengembangkan sumber energi bersih di tengah tingginya kebergantungan pada energi fosil. Butuh kolaborasi para pihak di dalamnya.
Jelajah ini mengupas upaya Indonesia mengembangkan program energi ramah lingkungan di dalam negeri.
Jelajah Sambal Nusantara
Merujuk penjelasan Fadly Rahman, sejarawan makanan dari Departemen Sejarah Universitas Padjadjaran, Bandung, serta dua peneliti dari Universitas Bina Nusantara, Reggie Surya dan Felicia Tedjakusuma, diketahui bahwa cita rasa pedas dalam masakan Nusantara dapat dikategorikan semasa sebelum dan sesudah abad ke-16.
Sebelum itu, rasa pedas di masakan Tanah Air telah dikenal luas berkat penggunaan beberapa bahan, seperti jahe, andaliman, lada, cabe jawa, dan rempah-rempah asli Indonesia lainnya. Olahan makanan kala itu berwarna kuning, bukan merah.
Capsicum sp atau cabai yang kita kenal saat ini sebelumnya telah ribuan tahun dimanfaatkan oleh masyarakat di Amerika Tengah dan Selatan. Kemudian, pada awal abad ke-16 itu, seiring gencarnya perdagangan global kuno antarbangsa lewat jalur laut, cabai masuk ke Nusantara.
Sejak saat itu, cabai menemukan surganya yang lain untuk tumbuh, berkembang. Lewat Jelajah Sambal pembaca diajak mencicipi kelezatan 90-an sambal Nusantara sekaligus mengenal budaya dalam setiap sambal yang tercipta.
