Berjalan Kaki, Bersepeda, hingga Berkendara, Kompas Menjelajah Dunia (2)

Penjelajahan Kompas berlanjut. Dalam kurun tahun 2010-2020, Kompas mulai banyak mengadakan ekspedisi dan jelajah Nusantara secara mandiri. Beberapa dilakukan berbasis lokasi, beberapa juga mengangkat tema-tema tertentu.

2010

Jelajah Musi

Sungai Musi mengalir sepanjang sekitar 720 kilometer dengan titik hulu di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Alirannya berakhir di kawasan Sungsang di Selat Bangka.

Sebagai sungai yang menghidupi ekosistem sekitar, Musi sudah mengalami pendangkalan. Daya dukungnya terhadap lingkungan, bahkan industri, melemah.

Lewat Jelajah Musi, Kompas ingin mengamati lebih dekat berbagai hal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi dan delapan sub-DAS-nya.

Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta

Infografik Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta

Sebanyak 30 pesepeda menempuh jarak Surabaya-Jakarta sejauh lebih kurang 1.100 kilometer, 23 Juni-4 Juli 2010. Kegiatan yang diikuti berbagai komunitas sepeda itu merupakan salah satu rangkaian kegiatan perayaan ulang tahun ke-45 harian umum Kompas.

Kegiatan Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta menghabiskan 12 hari melewati 12 kota. Dalam kegiatan ini Kompas ingin melihat Indonesia dari sepeda.

Hal itu diwujudkan dalam bentuk liputan yang bersifat konvergen mengenai sepeda dan kehidupan masyarakat.

Ekspedisi Jejak Peradaban NTT

Tim Kompas berupaya mengungkap kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur. Selain itu, Kompas juga berupaya menggali potensi pertanian dalam arti luas, yang bisa dikembangkan untuk kehidupan masyarakat NTT kini dan masa depan.

Di lapangan, Kompas mendapati kekayaan ternak yang luar biasa di NTT, tetapi kekayaan itu belum bisa mengangkat masyarakatnya ke level lebih sejahtera. Di sisi lain ada pula kearifan yang mengakar kuat di masyarakat, yakni toleransi.

Toleransi itu tergambar di pasar barter di Flores, NTT. Pasar yang juga menjadi jembatan persaudaraan antara Muslim dan Kristen.

Sekelompok kuda yang digembalakan dengan cara dilepas di padang gembalaan melintas di daerah Kahiri, Desa Watu Hadangu, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu.

Ekspedisi Wanadri

Kompas mendaki untuk meliput anggota Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri yang menaklukkan tujuh puncak dunia. Mereka menaklukkan puncak tertinggi dunia Everest. Pendaki Wanadri juga mengibarkan Merah Putih di Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua pada Mei 2010, Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, dan Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia pada Agustus 2010.

Lalu, Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina pada Desember 2010, Denali (6.194 mdpl) di Alaska, Amerika Serikat, pada Mei 2011, serta Vinson Massif (4.897 mdpl) di Antarktika pada Januari 2012.

Untuk ketiga kalinya, pendaki Indonesia menjejaki puncak Everest dan mengibarkan bendera Merah Putih di pucuk dunia. Selain itu, inilah pertama kalinya, petak dataran sempit pada ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut tersebut dijejaki pendaki Indonesia dengan melintasi jalur pendakian utara dari wilayah Tibet, China.

2011

Jelajah Sepeda Palembang

Ikut meramaikan pesta olahraga SEA Games XXVI di Palembang dan Jakarta, Kompas menggelar perjalanan bersepeda Jakarta ke Palembang selama tujuh hari.

Jelajah itu diikuti sekitar 50 pesepeda yang berangkat dari Jakarta. Setiap etape menempuh jarak rata-rata 100 kilometer. Rombongan pesepeda melewati kota antara lain Merak (Banten), Bandar Lampung dan Kotabumi (Lampung), Martapura, Baturaja, Tanjung Enim, Prabumulih, dan berakhir di Palembang.

Seperti biasanya, sesejauh 800 kilometer itu, Kompas merekam pula kekayaan budaya dan sosial masyarakat sepanjang jalan.

Ekspedisi Citarum

Kompas merekam Citarum. Sungai yang menerangi dan menghidupi peradaban hampir separuh penduduk negara ini.

Ekspedisi Citarum yang dilakukan Harian Kompas dengan pendekatan cross media editorial coverage mendapatkan medali emas dalam ajang Asian Digital Media Awards 2011 di Hong Kong, Kamis (24/11/2011).

Ekspedisi Citarum mengalahkan Dow Jones Publishing Company Hong Kong yang meraih perak serta The Age dan Sydney Morning Herald yang meraih perunggu.

Cincin api

Kompas berupaya mengungkap kembali pengetahuan lokal, jejak yang terkubur, serta sejarah bencana gempa, tsunami, dan letusan gunung di Nusantara. Selain itu, juga untuk menyelisik penyebab dan penanganan bencana alam yang terus mendera.

Ekspedisi ini menjelajahi kawasan cincin api Nusantara, mulai dari Aceh hingga Papua. Tulisan ini banyak menuliskan catatan sejarah bencana, sekaligus bagaimana masyarakat menyikapinya. Catatan itu bisa menjadi bagian dari pelajaran untuk masa mendatang.

Liputan Ekspedisi Cincin Api Harian Kompas juga mendapat penghargaan emas untuk kategori cross media editorial coverage dari Asosiasi Surat Kabar dan Penerbitan Berita Dunia (WAN-IFRA), di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (28/11/2012).

2012

Ekspedisi Tanah Papua II

Ana Gombo (50) menggendong Angel Kenelak (1) yang sedang sakit infeksi saluran pernapasan akut menggunakan noken di Kampung Wollo, Jayawijaya, Provinsi Papua, Selasa, 6 November 2012. Pelayanan kesehatan bayi dan anak balita di Jayawijaya membutuhkan perhatian khusus.

Di balik tumpukan persoalan politik, hukum, keamanan, dan hak asasi manusia, realitas sosial Papua menunjukkan gairah hidup damai dan sentosa seperti warga negara pada umumnya.

Harapan dan rasa saling percaya yang perlu dirawat itu dipotret oleh perjalanan Kompas dalam Ekspedisi Tanah Papua II.

Di Papua, bahan pokok memang masih jadi masalah. Beras mengalir, sedangkan sagu dan singkong tersingkir. Namun, sinergi warga mulai terlihat. Perekonomian pun berdetak di beberapa kota.

Jelajah Sepeda Bali-Komodo

Komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Perjalanan bersepeda ini merekam persoalan dan potensi di sana. Di sepanjang perjalanan ini pula, Kompas menulis berbagai potensi wisata, budaya, hingga persoalan di dalamnya.

Pulau Moyo di Nusa Tenggara Barat, misalnya, belum banyak dikembangkan, padahal pulau ini terkenal cantik, bahkan Lady Diana pun pernah mengunjunginya.

Di sisi lain, pariwisata belum berkembang baik karena sarana dan kesadaran masyarakat belum terbangun, antara lain masih terbatasnya transportasi dan masih banyak warga yang mematok tarif selangit bagi wisatawan yang datang saat itu. Meski demikian, keunikan komodo tetap membuat wisatawan datang.

2013

Ekspedisi Kota dan Jejak Peradaban

Ekspedisi ini menyusuri sejumlah kota sepanjang Sabang-Merauke dan menggali berbagai potensi daerah yang mengubah wajah kota atau daerah tertentu.

Di ekspedisi ini kita bisa mendapati cerita tentang gas alam dan dongeng pahit manis Arun, sebuah daerah penghasil gas di Aceh.

Ada pula cerita tentang gemilang tembakau Deli yang memudar, atau kisah kina, obat untuk dunia dari Priangan.

Jelajah Kuliner Nusantara

Di balik sepiring hidangan terekam serangkaian jejak kisah. Mulai dari perdagangan, migrasi manusia, penaklukan, hingga peperangan. Jelajah Kuliner Nusantara 2013 mencoba merangkai penggalan-penggalan kisah di Nusantara lewat kekayaan kulinernya.

Karena letak Nusantara berada di jalur perdagangan dunia, khazanah kuliner Nusantara juga dipengaruhi kebudayaan asing, seperti China, Arab, dan belakangan Eropa.

Selain perdagangan, penjajahan juga merembeskan banyak pengaruh pada khazanah kuliner dunia. Felipe Fernandez-Armesto dalam History of Food bahkan berani mengatakan, ”Tidak ada sumber lain yang bisa memengaruhi makanan lebih kuat daripada imperialisme.” Begitu pula sebaliknya, rempah-rempah tanah air pun memengaruhi cita rasa makanan negara-negara itu.

Jelajah Sepeda Sabang Padang

Kompas berkeinginan menyatukan Indonesia dari Sabang hingga Merauke lewat ajang bersepeda. Jelajah Sepeda Kompas PGN Sabang-Padang 2013 jadi langkah terdepan.

Jelajah Sepeda Kompas PGN Sabang-Padang 2013 menempuh rute sejauh 1.539 kilometer dan berlangsung 14 hari. Bermula dari titik nol Sabang, Aceh, hingga berakhir di Padang, Sumatera Barat. Jelajah sepeda melintasi tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Seusai menempuh jalur ini, jelajah sepeda kembali dilakukan di daerah lain.

2014

Jelajah Sepeda Manado-Makassar

Melanjutkan Jelajah Sabang-Padang, Kompas menggelar lagi Jelajah Sepeda Manado-Makassar. Jelajah ini menempuh jarak sekitar 1.600 kilometer dengan pesepeda dari dalam dan luar negeri.

Panorama indah tepi laut di pesisir pantai Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, menjadi pemandangan menyenangkan para peserta Kompas Jelajah Sepeda Manado-Makassar.

Susur Rel Kereta

Sempat terabaikan berpuluh tahun, kini tertatih menuju perbaikan. Kompas merekam perjalanan itu lewat susur kereta. Tidak hanya di Jawa. Susur kereta juga dilakukan di Sumatera dan Sulawesi, bahkan Pulau Madura.

Ada beberapa jalur yang masih aktif, ada juga yang sudah tak bersisa. Adapun bangunannya ada yang masih kokoh berdiri, berkembang pesat, tapi ada juga yang terbengkalai. Setiap tempat memiliki kisah masing-masing.

2015

Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan

Hampir semua jalan (Trans-Kalimantan) yang menghubungkan Banjarmasin (Kalimantan Selatan) dengan Balikpapan di Kalimantan Timur rusak.

Trans-Kalimantan inilah yang akan dilintasi peserta Jelajah Sepeda Banjarmasin-Balikpapan yang diselenggarakan Harian Kompas. Namun, dari perjalanan ini masih dirasakan keunikan budaya Dayak dan Melayu di Kalimantan yang hidup harmonis. Jelajah ini menempuh 567 kilometer.

Jelajah Sepeda Papua

Perjalanan panjang Jelajah Sepeda Nusantara yang diselenggarakan Harian Kompas dari Sabang sampai Merauke tuntas setelah 60 pesepeda peserta Jelajah Sepeda Papua finis di Merauke, Minggu (7/6/2015) sore.

Menjelang berakhir di Lapangan Mandala, Merauke, para pesepeda dari berbagai komunitas di Indonesia itu bersama-sama menyanyikan lagu ”Dari Sabang sampai Merauke”.

Dengan berakhirnya Jelajah Sepeda Papua di Merauke, rangkaian Jelajah Sepeda Nusantara pun berakhir setelah menempuh 8.570 kilometer, dengan melintasi 24 provinsi di hampir 300 kota dan kabupaten.

Dengan total delapan kali pelaksanaan, Jelajah Sepeda Kompas yang bertema ”Merajut Nusantara” dimulai sejak 2008 dengan Anyer-Panarukan, berlanjut dengan Surabaya-Jakarta (2010), Jakarta-Palembang (2011), Bali-Komodo (2012), Sabang-Padang (2013), Manado-Makassar (2014), Banjarmasin-Balikpapan (Mei 2015), dan Jelajah Sepeda Papua pada 3-7 Juni 2015.

Bersambung dalam tulisan ketiga: Jelajah AXL, Dari Energi Terbarukan Hingga Pedasnya Sambal (3)

Parfum Kualitas Indonesia