Membelai Kecanggihan Geely EX5
Bersama Chery, Geely adalah bagian dari ”invasi” pertama merek-merek mobil asal China ke Indonesia pada dekade awal 2000-an. Waktu itu, Geely dikenal dengan produknya, Geely Panda, yang berbentuk lucu. Namun, kini Geely telah berubah.
Setelah beberapa tahun menghilang, per 22 Januari 2025 Geely Auto kembali ke pasar otomotif Tanah Air. Pada invasi kedua China ini, merek yang bermarkas di Hangzhou, Zhejiang, itu tak lagi membawa Panda. Alih-alih, mobil pertama yang mereka pasarkan di sini adalah Geely EX5, sebuah SUV elektrik yang membawa segenap kecanggihan abad ke-21.
”Geely EX5 merupakan langkah awal dari komitmen kami dalam menghadirkan kendaraan yang menggabungkan teknologi canggih dengan mengutamakan kenyamanan dan keselamatan bagi konsumen Indonesia,” ujar Victor Gao, CEO Geely Auto Indonesia, dalam siaran pers resmi peluncuran kembali merek Geely di Indonesia.
Geely EX5 adalah sebuah SUV berukuran medium dengan dimensi panjang 4,615 meter, lebar 1,901 meter, dan tinggi 1,670 meter. Jarak antarporos rodanya (wheelbase) 2,750 meter. Dimensi ini membuat EX5 beda tipis dengan ukuran Mazda CX-5. EX5 lebih panjang 6,5 sentimeter saja dibandingkan SUV andalan Mazda itu.
EX5 ditawarkan dalam dua varian, Pro dan Max. Keduanya sama-sama dibekali baterai LFP (lithium ferro-phosphate) berkapasitas 60,22 kWh. Perbedaan keduanya hanya pada kelengkapan fitur. Fitur pada varian Max lebih banyak dibandingkan Pro, yang berefek pada bobot yang lebih berat pula.
Hal ini membuat jarak tempuh dan waktu akselerasi mobil pada dua varian tersebut berbeda. Klaim pabrikan berdasarkan siklus NEDC (New European Driving Cycle) menunjukkan, EX5 Max mampu menempuh jarak 490 kilometer dengan baterai terisi penuh. Sementara EX5 Pro diklaim mampu menempuh jarak 495 kilometer.
Akselerasi EX5 Pro lebih cepat, yakni 6,9 detik dari posisi diam ke kecepatan 100 kilometer per jam. Sementara varian Max beda tipis, yakni 7,1 detik untuk akselerasi yang sama. Kecepatan maksimum dua varian ini sama, yakni 175 kilometer per jam.
Akhir pekan lalu hingga pertengahan minggu ini, Kompas mendapat kesempatan menjajal Geely EX5 Max berkeliling Kota Jakarta dan kawasan pinggirannya, seperti Depok dan Tangerang Selatan. Kesan pertama melihat eksterior dan masuk ke interiornya pertama kali adalah aura premium dari SUV seharga Rp 515 juta (on the road di Jakarta). Harga itu didiskon menjadi Rp 505 juta sepanjang tahun 2025 ini.
Eksteriornya yang berdesain membulat di setiap sudutnya sekilas mengingatkan pada siluet Mercedes-Benz GLC. Hanya bedanya, EX5 terkesan lebih ”bersih” dan ”klimis”, salah satunya dengan ketiadaan gril sesuai kodratnya sebagai mobil elektrik.
Masuk ke dalam, aura premium menguar dari kursi-kursi dan panel pelapis bagian pintu (door trim) yang berbalut kulit sintetis berwarna broken white. Roda kemudi juga berbalut kulit berwarna sama. Warna ini membuat interior terasa terang, segar, dan lapang walaupun butuh perhatian ekstra untuk merawatnya karena material berwarna terang ini mudah ternoda kotoran.
Faktor nyaman
Duduk di kursi depan maupun kursi penumpang di belakang sama-sama nyaman. Sandaran kursi penumpang belakang tidak terlalu tegak dan kursi maupun sandarannya terasa empuk. Di baris depan, baik kursi pengemudi maupun kursi penumpang bisa diatur secara elektrik.
Seperti yang dikatakan Victor Gao di atas, EX5 memang bertabur teknologi canggih dan mengutamakan kenyamanan. Kursi di baris depan, misalnya, dilengkapi pemanas, ventilator embusan hawa AC, hingga fitur pemijat. Khusus penumpang depan, kursinya dilengkapi penyangga betis yang bisa dibuka hingga nyaris rata.
Sistem hiburan mobil ditopang Flyme Sound, sistem audio yang dirancang khusus oleh Geely dengan 16 pelantang suara (speaker), termasuk dua speaker di setiap sandaran kepala kursi depan. Speaker lainnya terdiri dari empat speaker mid-range, empat tweeter, empat woofer, dan satu subwoofer. Pantas saja suara yang keluar dari sistem audio ini bagus, mendekati kualitas audio mobil merek premium Eropa.
Kenyamanan juga didapatkan saat mengemudikan mobil. Pertama-tama, pengemudi tak perlu direpotkan dengan kegiatan menghidupkan/mematikan ”mesin”. Begitu kunci pintu terbuka dengan keyless remote, sistem penggerak mobil langsung dalam mode siap jalan. Cukup injak rem dan masukkan posisi transmisi ke D dengan tuas yang berada di sisi kanan roda kemudi, persis dengan tuas transmisi mobil-mobil Mercedes-Benz.
Mobil pun melaju dengan lembut. Saat gas diinjak lebih dalam, torsi puncak sebesar 320 Nm langsung terasa menghela mobil. Suspensi mobil pun meredam bantingan dengan lembut, bahkan empuk. Kembali rasa mobil premium Eropa muncul dari rasa berkendara ini.
Untuk menambah sensasi berkendara, tiga mode berkendara tersedia, yakni eco, comfort, dan sport. Di mode comfort, akselerasi mobil sudah cukup bergairah saat diajak ”lari-lari kecil” di jalan tol.
Setir mobil pun terasa ringan. Walau bentuk roda kemudi yang rata di bagian atas dan bawah, sempat memunculkan rasa aneh saat awal mengemudi mobil ini. Saat roda setir diputar 90 derajat, kedua tangan seolah menggenggam dua batang tongkat sejajar yang mengeluarkan rasa tidak wajar, bertentangan dengan intuisi mengemudi pada normalnya.
Keselamatan berkendara juga semakin meyakinkan dengan penyematan 13 fitur ADAS (advanced driver assistance system), mulai dari traffic sign information (TSI), blind spot detection (BDS), lane keep assist (LKA), sampai automatic emergency braking (AEB) dan intelligent cruise control (ICC).
Jadi kendala
Semua kecanggihan mobil ini bisa diakses melalui layar sentuh berukuran 15,4 inci di tengah dasbor. Bahkan, lebih dari 90 persen kontrol fungsi mobil ini diakses melalui layar digital beresolusi tinggi itu, mulai dari kontrol fungsi AC, lampu-lampu, buka tutup panoramic roof, mengatur setelan audio, memilih fitur hiburan, sampai memilih mode berkendara.
Di konsol tengah hanya ditemukan empat tombol fisik, masing-masing untuk mengatur penghilang embun (defogger) kaca depan, resirkulasi udara, tombol on/off AC, dan tombol auto AC. Bahkan, Kompas sempat bingung mencari tombol lampu hazard yang biasanya mudah ditemukan di tengah dasbor atau konsol tengah sebelum akhirnya menemukan tombol segitiga merah itu di antara dua lampu baca di plafon mobil.
Walaupun menjadi terkesan canggih, pengumpulan hampir semua pengaturan fungsi mobil di layar digital itu membawa kendala tersendiri. Saking banyaknya fitur yang diatur di layar itu, pengemudi tak disarankan mengakses menu digital tersebut sambil mengemudi. Sebab, butuh waktu dan perhatian khusus untuk merunut menu tersebut di layar sentuh untuk mencari kontrol yang kita cari dan ini jelas mendistraksi perhatian pengemudi dari jalanan.
Beberapa fitur yang sekilas terlihat canggih, seperti peringatan saat mobil melanggar batas kecepatan maksimum di jalan yang dilewati, juga berujung mengganggu. Jalan salah duga dulu, fitur ini sebenarnya fitur yang terpuji dan dibuat dengan niat mulia, yakni agar kita tidak berkendara ugal-ugalan melanggar aturan berlalu lintas.
Masalah timbul saat sistem pengenalan rambu lalu lintas, yang menjadi dasar fitur tersebut, tidak bekerja sebagaimana mestinya. Saat rambu di luar menunjukkan batas kecepatan 40 kilometer per jam, sistem ini masih menerapkan batas 20 kilometer per jam. Alhasil, peringatan berupa tanda rambu kecepatan di head up display (HUD) dan panel instrumen terus berkedip dan muncul suara alarm berulang-ulang.
Saat Kompas mencoba mobil ini berjalan dari kawasan kompleks perumahan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, menuju Menara Kompas di Jakarta Pusat melalui Jalan Cirendeu Raya, Jalan Metro Pondok Indah, Jalan Sultan Iskandar Muda, Jalan Teuku Nyak Arif, dan Jalan Tentara Pelajar, setidaknya dua rambu terlihat di jalan, yakni batas 30 kilometer per jam dan 40 kilometer per jam. Namun, sistem peringatan ini tetap menggunakan batas 20 kilometer per jam.
Masalahnya, sistem peringatan ini merupakan settingan standar (default) mobil. Bunyi alarm dan peringatan visual memang bisa dinonaktifkan, tetapi harus menghentikan mobil dan memindahkan transmisi ke posisi P dulu, baru (lagi-lagi), kita merunut pilihan penonaktifan itu di menu digital di layar utama.
Satu lagi kelemahan mobil seharga di atas setengah miliar rupiah ini adalah belum tersedianya fitur konektivitas Apple CarPlay maupun Android Auto. Hanya tersedia fasilitas mirroring tampilan ponsel melalui aplikasi CarbitLink yang harus di-install lebih dulu di ponsel kita. Hal ini bisa dibilang sudah ketinggalan zaman.
Pada akhirnya, Geely EX5 bisa dibilang sebagai mobil listrik yang nyaman dan canggih di kelasnya. Namun, butuh sedikit sentuhan halus (fine tuning) lagi untuk membuat mobil ini mendekati sempurna. Mobil ini butuh belaian tambahan!
