Tujuan Baru dengan Destinator

Sebagai produk teranyar gres dari Mitsubishi, Mitsubishi Destinator menarik perhatian banyak orang dan memicu rasa penasaran pencinta otomotif. SUV keluarga dengan tujuh tempat duduk ini juga bisa dikatakan membuka segmen baru yang bukan tidak mungkin akan diisi cepat para pesaingnya.

Mobil ini diluncurkan pertama kali di dunia dalam seremoni yang dipimpin langsung Presiden dan CEO Mitsubishi Motors Corporation, Takao Kato, di Jakarta, 17 Juli 2025 silam. Dikembangkan dari mobil konsep Mitsubishi DST Concept, Destinator, diakui Kato, dirancang sebagai sebuah SUV untuk keluarga.

”Sebagai orang yang pernah tinggal di Indonesia, saya paham berpergian dengan keluarga adalah sesuatu yang penting. Makanya, fokus kami selalu pada keluarga, membikin kendaraan untuk membawa orang-orang tersayang bertualang,” kata Takao Kato dalam acara peluncuran tersebut.

Secara tampang, Destinator sangat mirip dengan pendahulunya yang berkapasitas 5 kursi, Mitsubishi XForce. Bahkan, bisa dikatakan mobil ini adalah versi lebih panjang, lebih lega, dan lebih kekar dari XForce. Destinator berdimensi panjang 4,6 meter, dengan jarak antarsumbu roda 2,8 meter. Adapun panjang XForce sekitar 4,3 meter dengan jarak antarsumbu roda 2,6 meter.

Tampil perdana di ruang publik pada pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 akhir Juli lalu, Destinator langsung menyedot perhatian publik. Mobil baru itu menjadi salah satu bintang pameran, dan membuahkan angka surat pemesanan kendaraan (SPK) sebanyak 1.900 unit. Menurut PT Mitsubishi Motors Kramayudha Sales Indonesia (MMKSI), penjualan Destinator mencapai 47 persen dari total penjualan Mitsubishi selama GIIAS 2025.

”Di Tengah momentum penting ini, kepercayaan para pelanggan terhadap produk kami, khususnya  Destinator, menjadi simbol kuat bahwa apa yang kami hadirkan tidak hanya memenuhi ekspektasi,  tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup pelanggan kami ke depan,” tutur Presiden Direktur PT MMKSI Atsushi Kurita dalam siaran pers resmi setelah GIIAS berakhir, 5 Agustus 2025.

Kompas pun penasaran untuk segera mencoba mobil ini medan sesungguhnya. Untunglah tak butuh waktu lama, PT MMKSI meminjamkan unit uji kendaranya pada 7-13 Agustus 2025. Waktu tersebut diperkirakan cukup untuk mengenal lebih jauh mobil ini dengan mengendarainya di rute-rute komuter di Jakarta dan sekitarnya.

Destinator yang kami coba ini adalah varian Ultimate, varian tertinggi, dengan tambahan fitur Premium yang meliputi pengatur posisi kursi pengemudi secara elektrik, pintu bagasi elektrik dengan sensor tendangan, dan sistem audio premium besutan Yamaha. Harga varian Ultimate Rp 465 juta (on the road di Jabodetabek). Sementara tiga fitur Premium itu menuntut tambahan harga Rp 30 juta. Jadi, unit ini berharga total Rp 495 juta.

Dua varian di bawah Ultimate adalah varian Exceed dengan harga Rp 405 juta dan varian terendah GLS dengan harga Rp 385 juta. Di rentang harga ini, bisa dikatakan Destinator bermain sendirian sebagai sebuah SUV berkapasitas 7-seater. Pesaing terdekatnya mungkin adalah Chery Tiggo 8 asal China yang bermain di harga sedikit di bawah Rp 400 juta.

Tampang gagah

Kesan pertama melihat dari dekat mobil ini adalah posturnya yang gagah. Dengan ketinggian kolong (ground clearance) 24,4 centimeter (cm), mobil terlihat jangkung dan terkesan siap menerabas segala medan. Lembar spesifikasi menyebut tinggi mobil mencapai 1.780 milimeter (mm).

Masuk ke dalam interiornya terasa lega, apalagi dengan keberadaan atap kaca panoramic sunroof ukuran besar hingga ke atas kursi baris kedua. Duduk di posisi mana pun terasa lega. Bahkan, di kursi baris ketiga, dua teman yang memiliki tinggi badan di atas 175 cm mengaku masih bisa duduk nyaman berdampingan. Syaratnya, kursi baris kedua digeser ke depan sekitar 10 cm.

Duduk di kursi pengemudi, terlihat dua layar utama untuk menampilkan kluster instrumen dan layar infotainment. Bentuk layar ini dan tampilan di dalamnya juga menyerupai apa yang ada di Mitsubishi XForce. Tampilan infonya sangat kaya dan bisa ditampilkan bergantian di layar utama sehingga tidak membosankan.

Penyejuk udara sudah menerapkan sistem dua zona. Menariknya, Mitsubishi tidak ikut-ikutan tren menempatkan tombol-tombol kontrol AC ini ke dalam layar sentuhnya. Tombol-tombol fisik pengatur AC masih dipertahankan, membuat pengoperasiannya mudah dan intuitif.

Tak sabar merasakan rasa berkendaranya, tombol Start segera dipencet. Mesin menderum halus dari balik kap mesin. Transmisi segera dimasukkan ke posisi D, dan mobil mulai berjalan.

Dengan posturnya yang jangkung, pada umumnya mobil akan mudah bergejala limbung, bahkan sejak kecepatan rendah dan diajak melahap tikungan-tikungan patah di dalam kompleks perumahan. Namun, gejala ini secara mengejutkan sangat minim terasa di Destinator. Saat diajak berbelok-belok dalam kecepatan rendah, mobil tak terasa gonjang-ganjing.

Bagaimana dengan di kecepatan tinggi? Suspensi mobil masih meredam gejala limbung dengan baik, walau tidak menghilangkannya sama sekali. Di rute jalan tol, yang menyenangkan dari mobil ini adalah pilihan mode berkendaranya.

Mode berkendara

Ada lima pilihan mode berkendara yang bisa dipilih dengan tuas kecil di samping tongkat persneling. Kelima mode itu adalah Normal, Wet, Gravel, Tarmac, dan Mud. Di mode Normal, mobil berakselerasi seperti mobil SUV menengah kebanyakan. Hanya bedanya, transmisi CVT pada mobil ini disetel dengan memberikan penyaluran tenaga yang lebih besar pada putaran mesin rendah. Hasilnya, rasa jeda khas transmisi CVT agak tidak berasa di Destinator. Akselerasi terasa lebih spontan dari kebanyakan CVT di merek-merek lain.

Apalagi, saat mode berkendara dipindah ke Tarmac. Dengan injakan sedikit lebih dalam di pedal gas, mobil melaju dengan lebih bergairah. Mode ini sebenarnya ditujukan untuk merambah medan aspal di luar kota yang berkelok-kelok dan penuh dengan tanjakan. Akselerasi spontannya bisa membuat perjalanan ke luar kota ini lebih ringan dan menyenangkan.

Namun, mode Tarmac juga sangat bermanfaat saat kita agak terburu-buru di jalan tol. Di mode ini, tenaga mesinnya terasa lebih galak untuk mendahului mobil lain atau menyalip para lane hogger.

Padahal, mesin Destinator ini bisa dibilang ”tak seberapa”. Berkode 4B40, mesin 4 silinder ini hanya berkapasitas 1.5 liter (1.499 cc) dengan teknologi DOHC dan 16 katup. Hanya saja, mesin ini ditambah performanya dengan peranti turbo yang dilengkapi intercooler berpendingin cairan.

Tenaga mesin pun tercatat di angka 163 PS pada putaran mesin 5.000 rpm dan torsi maksimal 250 Nm dapat dipetik di rentang putaran mesin 2.500-4.000 rpm. Tenaga disalurkan ke roda depan.

Iritkah konsumsi bensinnya dengan kapasitas mesin yang bisa dibilang kecil ini? Selama pengujian menempuh jarak total 517 kilometer (km), layar MID (multi-information display) mobil menunjukkan konsumsi BBM rata-rata 12,6 km per liter. Namun, dengan metode penuh-ke-penuh, konsumsi BBM rata-rata yang didapatkan adalah 10,677 km per liter.

Ini adalah konsumsi BBM dengan rute kombinasi, mulai dari kemacetan parah di dalam kota Jakarta hingga lalu lintas lengang di jalan tol menjelang tengah malam. Selama pengujian, mobil diisi bensin beroktan 92. Pihak pabrikan merekomendasikan bensin yang dipakai beroktan 95, walaupun memberi catatan di balik tutup tanki bensin bahwa mesin mobil masih bisa meminum bensin beroktan minimum 90.

Saat diajak melaju dalam kecepatan sedang di jalan tol, tiba-tiba hujan deras turun. Inilah saatnya merasakan mode Wet. Langsung terasa respons gas turun dibanding mode Normal atau Tarmac. Perjalanan pun dapat dilanjutkan dengan lebih percaya diri dan perasaan lebih aman.

Jika ada satu catatan kekurangan mobil ini adalah pada kualitas suara sistem audionya. Walaupun sama-sama bermerek Yamaha, kualitas suara pada Destinator ini terdengar berada di bawah kualitas suara pada XForce. Bahkan, saat setting suara bas dan trebel dinaikkan, suara masih terasa flat dan tidak sedetail suara audio Yamaha di XForce.

Jadi bagaimana, tertarik dengan mobil ini? Segera datangi diler Mitsubishi terdekat karena harga akan disesuaikan setelah September 2025!

Parfum Lokal Indonesia