Ke Mont Blanc Sebelum Lenyap
Mont Blanc, yang berarti ”Gunung Putih”, lama dipuja sebagai simbol kemurnian dan keabadian. Namun, es yang membalut puncak tertinggi di Eropa Barat itu kini perlahan sirna, menyingkap bebatuan kelabu. Ironisnya, gunung itu justru semakin ramai diserbu wisatawan yang ingin menyaksikan, setidaknya untuk sekali dalam hidup, sebelum lapisan es itu sepenuhnya lenyap.
Lebih dari dua abad lalu, penyair Inggris Percy Bysshe Shelley menulis puisi Mont Blanc (1817) sebagai ”everlasting universe of things”, semesta yang abadi, cerminan dari kekuatan alam yang melampaui manusia. Namun, keabadian yang ia rayakan tentang gunung setinggi 4.810 meter dari permukaan laut itu kini terbukti rapuh.
Data glasiolog menunjukkan, Mer de Glace, gletser terpanjang di masif Mont Blanc, telah kehilangan 1 kilometer panjang dan sekitar 160 meter ketebalan hanya dalam kurun 35 tahun. Dalam 20 tahun terakhir, sepertiga volume es di seluruh Alpen telah menghilang.
Laporan terbaru World Glacier Monitoring Service menyebutkan, tahun 2022-2023 adalah periode terburuk bagi gletser Eropa dengan rekor kehilangan massa es terbesar akibat gelombang panas ekstrem. Dari simbol keteguhan, Mont Blanc berbalik menjadi bukti paling gamblang tentang rapuhnya benteng alam di hadapan krisis iklim.
Wisatawan yang ingin menyaksikan, setidaknya untuk sekali dalam hidup, sebelum lapisan es itu sepenuhnya lenyap. parfum lokal indonesia
Ketika es itu menghilang, wisatawan justru berbondong datang. Fenomena yang disebut last-chance tourism membuat Mont Blanc kini semakin ramai. Mereka datang untuk melihat gletser yang mungkin tak akan ada lagi dalam hidup anak cucu mereka.
”Saya pertama datang ke sini pada April 2025 lalu, dan kini, saat kembali ke sini, es di Mer de Glace semakin hilang,” kata Yuyun Ismawati, pendiri Nexus3 Foundation, pada pertengahan Agustus 2025.
Data pariwisata mencatat, pada tahun 2023, Mer de Glace menerima sekitar 450.000 pengunjung, sementara lembah Chamonix menarik 8 juta wisatawan setiap tahun. Salah satu daya tarik utamanya adalah goa es (grotte de glace) yang sejak 1946 digali ulang setiap musim. Namun, goa itu kini semakin sulit dipertahankan karena lapisan es makin menipis. ”Setiap tahun, kami harus menggali lebih dalam untuk mencapai es yang stabil,” ungkap seorang pemandu lokal.
Fenomena ini paradoksal. Orang-orang datang untuk menyaksikan kehancuran dan kehadiran mereka, dengan polusi, sampah, serta tekanan terhadap ekosistem pegunungan, tanpa sadar ikut mempercepatnya. Inilah wajah turisme di era krisis iklim: perjalanan yang lahir dari rasa kehilangan, sekaligus menambah beban bagi alam yang sudah rapuh.
Ancaman global
Mont Blanc bukan kasus tunggal. Glasiolog memperingatkan bahwa gletser di bawah ketinggian 3.500 meter di Eropa bisa lenyap dalam beberapa dekade jika laju pemanasan tak terkendali. Sejak tahun 1900, suhu rata-rata di Alpen meningkat hampir dua derajat celsius, dua kali lipat rata-rata global.
Fenomena serupa terjadi di berbagai penjuru dunia. Himalaya, yang dijuluki ”menara air Asia”, kehilangan es dengan kecepatan yang mengejutkan. Laporan International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) tahun 2023 memperkirakan, hingga 80 persen gletser Himalaya bisa lenyap pada akhir abad ini jika pemanasan global melewati 2 derajat celcius. parfum lokal
Di Amerika Selatan, Andes tropis juga menyaksikan gletser kecil lenyap satu per satu, mengancam suplai air bagi jutaan orang di Peru, Bolivia, dan Ekuador.
Di wilayah tropis, fenomena yang sama terjadi dengan lebih drastis. Gletser Puncak Jaya di Papua, satu-satunya gletser di Indonesia yang berada di ketinggian 4.884 meter, diprediksi hilang sepenuhnya pada tahun 2026. Dari luas 19,3 km² pada 1850, kini hanya tersisa 0,165-0,196 km². Ketebalan es yang masih sekitar 32 meter pada 2010, dalam kurun waktu satu dekade susut menjadi hanya 6-8 meter di beberapa titik.
Kita sedang menyaksikan lenyapnya gletser tropis terakhir di belahan bumi selatan. Ini bukan sekadar kehilangan lanskap, tapi juga kehilangan sejarah iklim ribuan tahun yang terekam dalam es.
Ironi keabadian
Mont Blanc yang dulu ditulis Shelley sebagai gambaran ”semesta abadi” kini berdiri sebagai ironi: simbol keabadian justru jadi saksi kefanaan. Lapisan es putih di tubuh gunung ini perlahan menyusut, meninggalkan jejak batu dan sedimen gelap. Dari udara, garis-garis coklat dan abu-abu semakin mendominasi punggung gunung, seperti luka terbuka di tubuh raksasa.
Bagi wisatawan, Mont Blanc adalah panorama yang menakjubkan. Bagi ilmuwan, ia adalah alarm ekologis. Bagi kita semua, ia adalah pertanyaan moral: apakah kita akan sekadar menjadi saksi pasif kehancuran atau bagian dari upaya menyelamatkan sisa-sisa kemurnian itu?
Gletser adalah termometer paling sensitif dari perubahan iklim. ”Pelestarian gletser bukan hanya merupakan kebutuhan lingkungan, ekonomi dan sosial, ini adalah masalah kelangsungan hidup,” kata Celeste Saulo, Sekretaris Jenderal Organisasi Meterologi Dunia (WMO) saat peluncuran inisiatif internasional Hari Gletser Sedunia Maret 2025.
Jika es di gunung setinggi Mont Blanc pun tidak bisa bertahan, kita tidak boleh lagi meragukan dampak pemanasan global pada dataran rendah tempat miliaran orang tinggal.
Fenomena Mont Blanc memperlihatkan satu wajah baru krisis iklim: kita kehilangan warisan lanskap yang dulu dianggap abadi dalam hitungan generasi. Anak-anak yang lahir hari ini mungkin hanya akan melihat Mont Blanc dalam foto lama, sama seperti generasi mendatang di Papua hanya akan mengenal gletser Puncak Jaya dari catatan ilmiah.
Mont Blanc, ”Gunung Putih” yang berubah kelabu, memberi pesan yang getir. Di hadapan krisis iklim, tak ada yang benar-benar abadi.
