Anatomi Kesepian Indonesia dan Dampaknya

Serial Artikel

Yogyakarta dan Jakarta Paling Rentan Kesepian

Kesepian Tak Butuh Nasihat, Hanya Butuh Didengarkan

Wawancara Pakar: Kesepian Bisa Lumpuhkan Produktivitas

Wawancara Pakar: Kesepian Bukan Masalah Sepele

Aku Dibayar untuk Mendengar

Saat Kesepian dan Kemiskinan Saling Membelit 

Kesepian Membebani Dunia Usaha

Kesepian Menggerogoti Tubuh dan Jiwa

Yogyakarta dan Jakarta Paling Rentan Kesepian

Mengapa Yogyakarta dan Jakarta bisa menjadi kota paling rentan kesepian?

Dua bulan ia tidak keluar kamar dan hanya berbaring. Perempuan yang tinggal di Bandung, Jawa Barat, itu merasa kosong dan sepi.

Kesepiannya berakar sejak belia. Saat SD, ia kerap diolok-olok karena kulitnya gelap. Ia tumbuh pendiam, tanpa teman.

Di rumah, komunikasi dengan keempat saudaranya nyaris tak ada. Ayahnya yang penjual bakso dan ibunya yang berjualan jamu sibuk bekerja.

Agar tak lagi dirundung, Indri dipindahkan ke kampung halaman orangtuanya di Karanganyar, Jawa Tengah, dan tinggal bersama seorang kakaknya.

Namun, sang kakak kembali ke Bandung setelah lulus SMP untuk bekerja. Indri pun tinggal sendirian.

Lulus SMP, Indri nyaris tak melanjutkan sekolah. Ia lalu dibiayai kerabatnya dan bersekolah di Padang.

Namun, Indri hanya bertahan setahun dan kembali ke Bandung karena tak tahan mendapat kekerasan verbal.

Tamat SMA, ia bekerja di Cikarang. Indri dan ibunya sempat dekat sebelum sang ibu meninggal dunia karena sakit. ”Waktu mama enggak ada, kayak hilang aja semuanya,” ujarnya, Selasa (1/7/2025).

Indri kemudian didiagnosis mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD), bipolar, dan borderline personality disorder. Ia sempat bertahan kerja, tapi akhir 2024 berhenti.

Depresinya kian memburuk setelah lepas obat. Seorang teman lalu menyarankan menonton drama Korea. ”Aku ingin ke Pulau Jeju di Korea, ketemu haenyeo,” ucapnya.

Mimpi ini menjadi bahan bakar semangatnya untuk hidup. Hari-hari Indri adalah perjuangannya mempertahankan keinginan untuk hidup.

Yogyakarta paling rentan 

Indri hanya satu dari puluhan juta penduduk Indonesia yang kesepian. Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap jajak pendapat menunjukkan, sekitar 1 dari 5 orang di Indonesia (19,97 persen) mengaku merasa kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Jajak digelar 16-19 Juni 2025 terhadap 512 responden di 72 kota di 38 provinsi.

Angka ini mirip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang rilis Juni 2025, ”From Loneliness to Social Connection”. Disebutkan, prevalensi kesepian di Asia Tenggara mencapai 18,3 persen.

Secara global, kesepian melanda 1 dari 6 orang di dunia dan menyebabkan 871.000 kematian per tahun.

Dalam jajak pendapat, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi provinsi dengan persentase terbesar untuk responden yang merasa kesepian setidaknya sepekan sekali, yaitu 66,07 persen.

Kota Yogyakarta juga menempati skor tertinggi di antara 30 kota besar (74,9 poin) dalam indeks kota rentan kesepian yang disusun Tim Jurnalisme Data Harian Kompas. Disusul Jakarta Pusat (65,6 poin), Makassar (54,5), Surakarta (49,8), dan Jakarta Selatan (43,5).

Pemilihan 30 kota didasarkan pada dua kriteria, yakni jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa dan kepadatan penduduk lebih dari 4.500 jiwa per kilometer persegi.

Indeks disusun berdasarkan 12 variabel yang diidentifikasi WHO sebagai pendorong diskoneksi sosial, seperti persentase rumah tangga satu orang, jumlah orang lansia, angka pengangguran, akses ke ruang publik dan fasilitas olahraga, layanan kesehatan jiwa, serta status pernikahan.

Skor tinggi Yogyakarta disumbang variabel proporsi rumah tangga beranggotakan satu orang (16,13 persen), proporsi rumah tangga perkawinan jarak jauh, penduduk dewasa tidak kawin, dan proporsi warga lansia.

Kondisi serupa ada pada Jakarta Pusat dengan skor lebih rendah. Indeks ini bukan ukuran perasaan individu, melainkan tingkat kerentanan suatu kota.

Kesepian, menurut WHO, adalah perasaan negatif akibat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan dalam hubungan sosial. Kesepian dan isolasi sosial adalah bentuk diskoneksi sosial.

Budaya kolektivisme

Bertolak belakang dengan asumsi umum, negara dengan budaya kolektif justru memiliki tingkat kesepian lebih tinggi, seperti diungkapkan laporan WHO. Di negara-negara ini, kesepian dipandang menyalahi norma sosial yang mendorong orang kesepian semakin menarik diri dan menyembunyikan kondisinya.

Negara-negara berbudaya kolektif tinggi seperti di kawasan Afrika (prevalensi kesepian 24,3 persen), Mediterania Timur (21 persen), dan Asia Tenggara (18,3 persen) rata-rata memiliki estimasi prevalensi kesepian mencapai 21,2 persen. Ini hampir dua kali lebih tinggi dari negara-negara yang relatif individualistik seperti di Amerika (13,6 persen), Pasifik Barat (11 persen), dan Eropa (10,1 persen).

Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Wahyu Kustiningsih, menilai ruang sosial yang menyempit di kota seperti Yogyakarta dan Jakarta membuat orang kehilangan koneksi. Ketimpangan akses pendidikan dan pekerjaan bisa menyebabkan alienasi. Jika dibiarkan, kesepian bisa melemahkan kerja sama sosial dan menambah beban ekonomi serta psikologis. Negara perlu menyediakan ruang sosial inklusif, dengan dukungan masyarakat.

”Negara seharusnya jadi pengayom. Tapi, masyarakat pun harus saling mendukung. Modal sosial hadir kalau ada kebersamaan. Sementara sekarang, orang lebih hidup sendiri-sendiri. Itu jadi problem,” kata Wahyu, Rabu (16/7/2025).

Kesepian dan kemiskinan saling membelit

Jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan, kelompok ekonomi bawah paling rentan kesepian (34,36 persen). Dengan kata lain, satu dari tiga orang di kelompok ekonomi ini kesepian.

Sementara tingkat kesepian di kelas menengah sebesar 18,74 persen. Paling sedikit mengalami rasa sepi dari kalangan atas, sebesar 16,72 persen.

Cara mengusir sepi juga berbeda di setiap kelas. Warga kelas menengah dan atas, umumnya memilih menekuni hobi.

Masyarakat kelas bawah lebih banyak menepis sepi dengan menghubungi saudara atau teman, disusul scrolling dan aktivitas lainnya di media sosial.

Laporan WHO menunjukkan hal serupa, semakin rendah pendapatan suatu negara, semakin tinggi tingkat kesepiannya.  Prevalensi kesepian di negara berpendapatan rendah mencapai 24,3 persen.

Sementara itu, di negara berpendapatan menengah bawah dan menengah atas masing-masing 19,3 persen dan 12,1 persen. Di negara berpendapatan tinggi, 10,6 persen warganya merasa sepi.

WHO menggarisbawahi, kemiskinan dan status sosial yang rendah menjadi salah satu penghalang untuk menjalin hubungan sosial.

Kondisi ini membuat rasa percaya diri rendah dan membatasi mereka untuk berkontribusi dalam aktivitas sosial.

Wahyu mengungkapkan, kemiskinan membuat relasi sosial renggang, bersifat dangkal, dan dibebani stigma sehingga memperkuat isolasi. Kesepian di daerah miskin bukanlah hal baru. Akan tetapi, saat ini terasa lebih kuat karena masyarakat semakin individualistis.

”Saat ekonomi sulit, orang sibuk bertahan dan jarang berinteraksi. Gadget lebih banyak dipakai untuk hiburan pribadi,” kata Wahyu, Senin (4/8/2025).

Direktur Eksekutif CORE Muhammad Faisal menilai kelompok ekonomi bawah lebih rentan kesepian akibat tekanan mental dari impitan hidup, rasa tidak aman, dan minimnya ruang sosialisasi. Keterbatasan pendapatan juga menyulitkan mereka mengakses hiburan sebagai pelarian.

”Orang yang lebih punya pendapatan atau disposable income bisa memilih hiburan. Bahkan orang yang sangat kaya bisa memilih teman karena uangnya,” ujar Faisal kepada Kompas, Rabu (9/7/2025) siang.

Remaja makin kesepian 

Data survei kesehatan global berbasis sekolah (Global School-based Student Health Survey/GSHS) yang diprakarsai WHO, memperlihatkan lonjakan signifikan pada indikator kesepian dan masalah kesehatan mental di kalangan pelajar usia remaja dalam hampir dua dekade terakhir.

Dari analisis terlihat, lebih banyak generasi Z yang mengeluhkan kesehatan mentalnya ketimbang generasi milenial. Pada 2007, hanya 8,7 persen remaja yang mengaku merasa kesepian hampir sepanjang waktu dalam setahun terakhir. Angka itu melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2023 menjadi 19 persen.

Persentase siswa yang merasa kesepian tahun 2023 ini merupakan hasil analisis awal dan sementara oleh Tin Afifah, Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berdasarkan data mikro GSHS 2023 yang belum dipublikasikan.

Menurut Tin, peningkatan drastis jumlah remaja Indonesia yang kesepian kemungkinan karena struktur sosial yang berubah drastis. Gawai, seperti ponsel pintar dan media sosial, termasuk yang berkontribusi pada perubahan ini.

Kesepian memicu penyakit  

Temuan Kompas juga menunjukkan, adanya hubungan positif antara kesepian dan depresi, gangguan kejiwaan, dan keinginan bunuh diri. Saat prevalensi kesepian meningkat, angka prevalensi tiga gangguan mental ikut naik. Di antara ketiganya, korelasi paling kuat terlihat antara kesepian dan dorongan untuk mengakhiri hidup.

Kesepian juga berkorelasi positif dengan stroke, diabetes, hipertensi, serta penyakit jantung. Korelasi paling kuat terlihat pada diabetes dan stroke, disusul hipertensi dan penyakit jantung. Temuan ini menunjukkan bahwa kesepian bukan hanya urusan emosi, melainkan juga bisa mempercepat penurunan kondisi fisik.

Data prevalensi kesepian diolah dari jajak pendapat Litbang Kompas. Data prevalensi ketujuh penyakit diperoleh dari data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang diterbitkan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.

”Kesepian itu menyebabkan masalah mental, emosional tertekan, dan tidak nyaman. Implikasinya nanti pada kesehatan fisik,” kata psikiater konsultan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Nalini Muhdi, Rabu (9/7/2025).

Kesepian yang berkepanjangan dapat memicu gangguan kecemasan, gangguan tidur, stres, depresi, hingga dorongan ingin bunuh diri. Menurut Nalini, stres dan depresi yang dialami orang kesepian dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Kondisi ini pada gilirannya meningkatkan risiko kegemukan, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, hingga menurunnya daya ingat atau fungsi kognitif, terutama pada lansia (demensia).

”Kesepian itu menyebabkan masalah mental, emosional tertekan, dan tidak nyaman. Implikasinya nanti pada kesehatan fisik.” parfum kualitas internsional

Dunia usaha terbebani 

Hasil analisisis Tim Jurnalisme Data Kompas, absensi kerja akibat penyakit terkait kesepian dapat menyebabkan hilangnya produktivitas yang pada 2024 setara Rp 625,22 triliun.

Penghitungan hilangnya produktivitas difokuskan pada ketidakhadiran kerja akibat delapan gangguan fisik dan mental yang terbukti berkorelasi dengan tingkat kesepian di Indonesia, yakni penyakit jantung, stroke, hipertensi, diabetes melitus, depresi, keinginan bunuh diri, gangguan kejiwaan, dan tekanan akibat diskoneksi sosial.

Kerugian dihitung dari jumlah hari absen akibat penyakit terkait kesepian dikalikan dengan pendapatan per kapita. Kerugian terbesar akibat produktivitas yang hilang, dialami DKI Jakarta, yakni Rp 130,59 triliun.

Di Amerika Serikat, menurut Pusat Kesehatan Otak Universitas of Texas di Dallas, pada 2024 kesepian menyebabkan kerugian negara hingga 460 miliar dollar AS hanya dari ketidakhadiran pekerja.

Laporan WHO menyebut, di Inggris Raya, kerugian akibat kesepian 2,5 miliar pound sterling per tahun bagi pemberi kerja dan 9.900 pound sterling per orang per tahun untuk kasus berat. Di Spanyol, kerugiannya mencapai 15,2 miliar dollar AS per tahun.

Menurut pakar ekonomi kesehatan BRIN, Wahyu Nugraheni, kesepian kronis menurunkan produktivitas dan meningkatkan beban layanan kesehatan.

Menurut dia, kerugian ekonomi akibat kesepian sebenarnya bisa dihitung dari biaya yang dikeluarkan pasien, pemerintah, dan penyedia layanan kesehatan, seperti rumah sakit dan puskesmas. ”Kalau dihitung semua, tentu angkanya lebih besar lagi,” kata Wahyu, Senin (21/7/2025).

Faisal mengatakan, kesepian yang tak tertangani akan membebani negara dan masyarakat. Kesepian juga bisa menurunkan produktivitas tenaga kerja yang sejak lama menjadi titik lemah dalam menarik investasi.

Menurut dia, swasta bisa ikut berperan lewat pengaturan jam kerja fleksibel, kelonggaran cuti, dan program CSR untuk kesejahteraan mental. Namun, tanggung jawab utama tetap di tangan negara, terutama untuk kelompok pengangguran dan masyarakat.

Kerja sama antarkementerian

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mendukung kerja sama antarkementerian dan lembaga untuk menangkal isu kesepian. Menurut dia, kesepian berkontribusi pada depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan imun

”Kota-kota padat aktivitas dan tinggi mobilitas sosial, seperti pusat bisnis dan pendidikan, sering kali menyimpan fenomena kesepian di tengah keramaian,” kata Imran.

Upaya yang akan dilakukan pemerintah mencakup pelatihan 3,35 juta tenaga pertolongan pertama pada luka psikologis, penapisan kesehatan jiwa dalam program Cek Kesehatan Gratis, serta layanan konseling di puskesmas dan telemedicine. Puskesmas juga ditargetkan mampu menangani depresi ringan hingga sedang.

Parfum Kualitas Terbaik