Kesepian Tak Butuh Nasihat, Hanya Perlu Didengarkan
Kesepian kini bukan lagi urusan pribadi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, persoalan ini telah menjadi isu mendesak yang membutuhkan perhatian bersama.
Temuan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menunjukkan, satu dari lima orang di Indonesia mengaku merasa kesepian. Laporan WHO yang dirilis akhir Juni lalu memperkirakan, sekitar 16 persen penduduk dunia dilanda kesepian.
Menariknya, rasa sepi justru lebih banyak ditemukan di kawasan dengan budaya kolektif seperti Asia Tenggara, Afrika, dan Mediterania Timur dibandingkan negara-negara yang lebih individualistik. Data tersebut menjadi pengingat bahwa kesepian dapat menembus batas usia, kelas sosial, maupun budaya.
Dampaknya merambat ke banyak sisi, mulai dari kesehatan mental dan fisik hingga menurunnya kualitas hidup. Keluar dari rasa sepi tidak bisa dilakukan sendirian. Upaya bersama perlu dilakukan, dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, hingga lingkaran yang lebih luas.
Berikut ini rangkuman saran dari pakar dan praktisi kesehatan mental yang dihimpun Kompas melalui wawancara pada Juli 2025.
Tenangkan diri
Kesepian bukan sekadar perasaan kosong. Penelitian menunjukkan, rasa sepi dapat memicu reaksi otak yang mirip dengan rasa sakit fisik. Karena itu, menurut pendiri Into The Light Indonesia, Benny Prawira Siauw, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menenangkan diri.
”Cari dulu cara membuat diri nyaman. Bisa dengan menulis, minum cokelat hangat, atau mandi berendam air hangat. Saat tubuh merasa nyaman, kita lebih mudah keluar dari siklus pikiran yang dikuasai kesepian,” ujarnya pada Senin (7/7/2025).
Setelah suasana hati sedikit lebih tenang, langkah berikutnya yang bisa dijalani adalah mengenali apa yang sebenarnya dibutuhkan secara pribadi. Bertanya pada diri sendiri tentang harapan kita terhadap teman, pasangan, atau kolega, bisa menjadi awalan untuk membangun kembali relasi sosial.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun keterhubungan dengan hal-hal sederhana. ”Ketika merasa diri tak berharga, hubungkan diri dengan sesuatu di luar kita, menyelesaikan baca komik, memasak, atau sekadar menikmati semangkuk mi instan. Keterhubungan seperti ini membantu kita bertahan dan perlahan melangkah maju,” ujarnya.
Upaya berikutnya adalah menjaga keseimbangan hidup sehari-hari. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menekankan pentingnya mempertahankan pola hidup sehat. Mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, menghindari alkohol dan rokok, serta rutin berolahraga dapat membantu menjaga kesehatan fisik sekaligus mental.
Bijak bermedsos
Media sosial kerap memberi ilusi seolah sedang terhubung dengan banyak orang. Namun, kebiasaan menggulir layar (scrollilng) tanpa tujuan justru bisa memperkuat rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO) dan mendorong seseorang lebih sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
”Sedikit-sedikit kita scroll, FOMO makin kuat. Akibatnya cara pandang terhadap diri sendiri jadi semakin negatif,” ujar Ketua Divisi Psikiatri Komunitas FKUI/RSCM Hervita Diatri kepada Kompas, Rabu (9/7/2025).
Untuk memutus lingkaran ini, ia menyarankan memberi jeda sejenak dari layar dan meluangkan waktu bagi aktivitas nyata. ”Tidak ada cara lain memang untuk memotong lingkaran kesepian selain membatasi akses media sosial,” tambah psikiater yang juga menjadi Ketua Kelompok Kerja Nasional Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan.
Pada akhirnya, interaksi nyata jauh lebih berharga dibanding sekadar mengonsumsi konten secara pasif. Percakapan langsung memberi manfaat yang tidak bisa digantikan oleh layar.
”Tidak ada cara lain memang untuk memotong lingkaran kesepian selain membatasi akses media sosial.”
Bangun koneksi nyata
Waktu luang tak selalu harus dihabiskan dengan menatap layar ponsel. Ada banyak cara sederhana untuk menyegarkan pikiran sekaligus membuka ruang interaksi.
”Membuat minuman bersama rekan kerja di pantry, berjalan sebentar melihat pepohonan, atau sekadar pindah tempat duduk bisa jadi pilihan,” saran Hervita.
Dari hal-hal kecil, peluang untuk bertegur sapa dan terhubung dengan orang lain bisa tumbuh. Begitu pintu interaksi terbuka, cara-cara sederhana untuk merawat hubungan pun bisa dilakukan.
”’Caranya bisa lewat hobi, ikut kelas atau kursus, bertemu orang-orang dengan minat sama, atau olahraga. Sahabat yang bisa dipercaya itu penting. Usahakan tetap keep in touch,” ujar psikiater konsultan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Nalini Muhdi.
Kegiatan bermakna, baik di rumah maupun di luar, juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun keterhubungan. Bermain musik, berkebun, memelihara binatang, mengikuti kerja sukarela, atau sekadar mengobrol dengan tetangga memberi rasa adanya tujuan, sekaligus kesempatan bertemu orang baru. Jika bisa ditanamkan sejak dini, koneksi dengan dunia luar akan membantu anak-anak lebih tahan terhadap rasa kesepian di kemudian hari.
”Caranya bisa lewat hobi, ikut kelas atau kursus, bertemu orang-orang dengan minat sama, atau olahraga. Sahabat yang bisa dipercaya itu penting. Usahakan tetap keep in touch.”
Cari pertolongan
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tin Afifah, mengatakan, menyadari diri mengalami kesepian adalah langkah awal menghadapi perasaan tersebut. Jika kondisinya semakin tidak baik, ada baiknya mulai mencari bantuan dari orang terdekat, seperti teman, saudara, orangtua, atau pasangan.
”Jika semakin parah mengarah pada stres, gangguan kecemasan, hingga depresi, sudah butuh bantuan profesional,” kata Tin, Minggu (20/7/2025).
Konsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa menjadi pilihan. Kini, layanan psikolog di puskesmas dapat diakses dengan BPJS tanpa perlu khawatir akan stigma. Berobat ke puskesmas pun tidak lagi otomatis dikaitkan dengan gangguan jiwa.
Di luar bantuan profesional, menjaga relasi yang sehat tetap harus dipertahankan. ”Agar tidak merasa kesepian, kita perlu berelasi dengan orang lain. Punya sahabat itu penting,” ujar Nalini pada Rabu (9/7/2025).
Dengarkan, dengarkan, dengarkan
Mengusir kesepian seyogianya didukung oleh orang-orang di sekitar. Dukungan bisa dimulai dari hal sederhana, yakni menciptakan suasana ramah, peduli, dan tidak segan menengok teman atau tetangga yang terlihat menyendiri.
Kepekaan terhadap orang-orang di sekeliling yang mengalami kesepian perlu dilatih. Perhatian sangat perlu diberikan kepada mereka, dimulai dengan hal-hal kecil misalnya sapaan sederhana.
Hervita mengingatkan untuk tidak menyerah pada penolakan yang biasa terjadi saat mendekati orang-orang kesepian. Ketika muncul respons penolakan, bisa jadi pada saat itulah sebenarnya kebutuhan akan perhatian memuncak.
”Selain didekati, orang-orang yang kesepian juga perlu didampingi. Cara pendampingan yang paling sederhana adalah dengan mendengarkan. ”Temani lalu dengarkan, dengarkan, dengarkan, tanpa memberi nasihat atau menghakimi. Itu prinsip utamanya,” kata Nalini.
Mendampingi juga berarti hadir secara fisik saat orang yang kesepian berusaha membangun relasi. Kerap menjadi masalah, banyak orang hanya memberi semangat dengan menyuruh bersosialisasi, lalu pergi begitu saja.
”Temani lalu dengarkan, dengarkan, dengarkan, tanpa memberi nasihat atau menghakimi. Itu prinsip utamanya.”
Bagi mereka yang tidak terbiasa memulai perkenalan, dorongan tanpa kehadiran justru membingungkan karena tak tahu harus mulai dari mana. Karena itu, dorongan sebaiknya disertai pendampingan nyata, yaitu benar-benar menemani, bukan sekadar menyuruh.
Bangun kebersamaan
Kementerian Kesehatan mengingatkan pentingnya menciptakan suasana keluarga dan lingkungan sosial yang hangat. ”Membangun lingkungan keluarga atau sosial yang sehat, menghindari konflik, saling terbuka, dan saling mendukung,” demikian anjuran Imran dalam jawaban tertulisnya kepada Kompas.
Membangun kebersamaan ini membutuhkan waktu dan tidak bisa instan. Kehangatan bukan hadiah sehingga harus diusahakan. ”Kalau semua masuk kamar masing-masing dan tak berinteraksi, suasana hangat tak akan terbentuk,” ujar Nalini
Komunitas, baik tatap muka maupun daring, dapat dijadikan ruang aman untuk saling berbagi cerita, belajar meminta tolong, memberi maaf, dan berterima kasih. Pertemuan tidak harus sering dilakukan. Sekali dalam sebulan pun dinilai cukup asalkan terjaga dengan konsisten.
Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai pintu untuk menemukan komunitas dengan minat serupa sekaligus memperluas akses terhadap dukungan sosial. Upaya ini pada akhirnya bertujuan membangun kebersamaan, menciptakan rasa memiliki, dan mengurangi jarak di antara orang-orang yang selama ini merasa terisolasi. parfum kualitas internasional
Lingkungan kerja yang sehat
Upaya mengatasi kesepian juga memerlukan dukungan dunia kerja. Di mata Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Muhammad Faisal, sektor swasta bisa berperan penting dalam mengurangi kesepian dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih peduli dan manusiawi.
Swasta bisa berkontribusi menciptakan iklim kerja yang lebih humanis. Artinya, perusahaan tidak hanya mengejar target, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis karyawan. Misalnya, memberi kelonggaran dalam hal cuti selama masih dalam batas wajar, serta memahami jika ada masalah keluarga. Contoh lain adalah fleksibilitas kerja seperti yang diterapkan di kantor Faisal saat ini.
”Ada kebijakan-kebijakan tingkat korporasi yang ditujukan untuk menciptakan iklim kerja yang lebih less stressful. Dan, kemudian juga lebih mendorong mereka dekat dengan keluarga di samping mencapai target-target pekerjaannya,” terangnya. parfum internasional
Perusahaan juga bisa berkontribusi lewat program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang diarahkan untuk mendukung upaya-upaya menekan semakin meluasnya kesepian.
Pada akhirnya, kesepian tidak akan hilang begitu saja. Perlu langkah-langkah kecil dari dua arah agar bisa bertemu di tengah. Butuh upaya reach out dari mereka yang merasa kesepian dan di sisi lain diperlukan outreach dari orang-orang di sekitarnya.
”Ketika dua arah ini bertemu, ada jabat tangan, dan dari situlah jalan keluar untuk mengatasi kesepian bersama bisa terbuka,” ujar Hervita.
