Meniti Muria dengan Haval Jolion Ultra

Undangan mendatangi Festival Muria Raya ke-5 di pertengahan Agustus begitu menggugah. Terbayang perjalanannya bukan hanya melintasi Jalan Tol Transjawa, melainkan bakal meniti Pegunungan Muria di Jateng. Mobil yang pantas untuk itu jenis SUV ukuran sedang, bertenaga cukup, irit bahan bakar, bisa melibas jalur tol sekaligus naik-turun tanjakan.

Great Wall Motor (GWM) punya model Haval Jolion varian Ultra yang diluncurkan di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) pada Februari 2025. Varian Ultra ini adalah pengembangan dari Jolion yang meluncur tahun sebelumnya dengan penambahan fitur sistem keselamatan canggih (advanced driver assistance system/ADAS) versi baru.

Di sela-sela pameran itu, Kompas sempat mencoba membawa mobil ini keluar arena, mengitari kawasan Kemayoran hingga di sekitar Ancol yang macet. Salah satu fitur ADAS yang bermanfaat di skenario ini adalah penyesuaian laju berdasarkan tangkapan sensor akan posisi kendaraan di depan. Tapi fitur lainnya tak sempat dijajal.

Oleh karena itu, ”tantangan” menuju Pegunungan Muria bisa jadi ajang yang cocok untuk mengetes kemampuan mobil, juga kemampuan menyetir. Pasokan tenaga dari mesin 1.497 cc dipadu dengan motor listrik seperti jaminan bisa ngacir di jalan tol. Dimensi mobil dengan panjangnya hampir 4,5 meter dan lebar 1,8 meter ini juga rasanya pas meniti jalan sempit.

Selain itu, tampilannya tidak terlalu ”priayi”. Garis-garis desainnya terbilang simpel, tidak mencolok, meski nuansa kotak-kotak keperakan di gril seperti berteriak lantang juga. Ukurannya sedang, serupa dengan mobil SUV kebanyakan. Kesemenjanaan ini jadi penting mengingat tujuan akhir kami adalah dusun yang terletak di lipatan-lipatan bukit. Tak elok rasanya bermewah-mewah, meski harga mobilnya sekitar Rp 418 juta.

Kami berangkat dari Menara Kompas di Palmerah, Jakarta Pusat, dengan bensin beroktan 92 memenuhi tangki sekitar 55 liter pada Jumat (15/8/2025) siang. Pikiran tenang karena tampilan di layar digital menyebutkan bensin sebanyak itu bisa menempuh jarak sekitar 700 kilometer (km), sementara jarak ke tujuan, Dusun Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, sekitar 570 km saja.

Mobil ini beratap kaca hingga baris kedua yang bisa dibuka. Ini rasanya menjadi gimik yang bagus dipunyai, tapi jika tak ada pun tak apa. Masalahnya, di mobil ini, plafon penutup atap kaca itu berbahan kain yang relatif tipis. Jadi, meski atap dan plafon tertutup, masih ada cahaya matahari yang masuk. Ini membuat suhu dalam kabin susah sejuk, dan selalu terasa ”aroma” matahari.

Kendala itu bisa tertangani dengan AC dua zona; depan kiri dan kanan. Sayangnya pengatur suhu AC dan kekuatan kipasnya hanya bisa dioperasikan lewat layar sentuh ukuran 10,2 inci di tengah dasbor itu. Tombol fisik di bawah layar itu hanya bisa untuk mengaktifkan atau mematikan AC saja, tidak mengatur kekuatan tiupannya. Ini terasa merepotkan jika berkendara sendiri.

Bangku pengemudinya bisa diatur dengan tombol elektrik. Namun, rasanya agak susah mencari posisi duduk yang nyaman. Sebabnya bukan pada jok, melainkan posisi setir. Setir pada unit yang kami pakai terasa cenderung ke kanan sedikit. Dan setir itu hanya bisa dinaik-turunkan (tilt), tidak bisa maju-mundur (telescopic).

Sementara itu, pedal rem terasa lebih mendongak dibandingkan pedal akselerator. Jadinya, pergelangan kaki bekerja lebih keras. Ini mengurangi kenyamanan mengemudikannya. Andai saja setir itu bisa lebih fleksibel, masalah ini tak perlu terjadi. Di luar itu, kualitas rancang bangunnya terbilang mengagumkan; presisi dan kokoh, seperti kebanyakan produk GWM lainnya.

Karakter minus produk GWM adalah suara-suara nyaring; dari lampu sein, atau peringatan obyek di titik buta. Ini juga terjadi di Haval Jolion. Kadang suaranya terlalu berisik, mengganggu keasyikan menikmati musik.

Jalan pelan-pelan

Etape pertama perjalanan ini berakhir di Semarang setelah menempuh jarak 442 km dalam waktu enam jam. Hampir 90 persen rute ini melalui jalan tol dengan kecepatan rata-rata 95 km per jam. Konsumsi bahan bakarnya ketika finis ada di angka 15 km per liter, tak terlalu mengesankan untuk mesin berpenggerak hibrida.

Memang, mode berkendara yang dipilih adalah mode Standard, bukan yang ekonomis. Tak jarang pula berakselerasi penuh hingga melampaui batas kecepatan wajar untuk merasakan seberapa signifikan angka tenaga puncak 190 PS dan torsi maksimum 375 Nm ini. Pada kecepatan tinggi, terdengar mesin mobil meraung, seperti mengingatkan sudah terlalu kencang. Penggunaan mesin bakar menjadi lebih dominan dibandingkan motor listriknya. Bahan bakar yang tersisa masih lebih dari setengah tangki.

Setelah beristirahat satu malam, etape kedua dimulai dengan jalur yang lebih menantang. Keluar dari Kota Semarang kami masih memanfaatkan rute jalan tol hingga Demak dengan jarak sekitar 25 km. Di luar itu, kami meniti jalan provinsi menuju Jepara, berbagi dengan sepeda motor, atau truk. Laju mobil tak bisa cepat-cepat. Tangki kembali diisi nyaris penuh supaya tenang.

Dengan kondisi jalan demikian, motor listrik bekerja lebih dominan. Suaranya hening, layaknya mobil listrik murni. Ketika berakselerasi, terasa kembali getaran mesin berkode GW4G15H itu. Torsi yang tinggi bisa diandalkan ketika ada kesempatan menyalip.

Jalur lebih menantang dan menegangkan adalah ketika berbelok dari jalan utama Jepara-Pati ke arah kanan, menuju Kecamatan Keling. Jalanan makin sempit. Rerimbunan hutan mulai tampak. Kecepatan makin perlahan lagi. Tak jarang menemukan kelokan patah, yang bisa mudah dilahap mobil ini.

Aspal yang semula mulus di perkampungan, berubah menjadi jalan dengan permukaan bolong-bolong di kawasan hutan yang didominasi pohon kapuk. Jalanan mulai menanjak bertahap, kadang dilengkapi kelokan. Suspensi independen di roda depan menari-nari. Rasanya cenderung kaku, menimbulkan kesan stabil.

Naik dan turun

Namanya pegunungan, jalan menanjak dan menurun adalah hal biasa. Ketika menanjak curam, mesinnya meraung halus, tetapi tidak kehilangan tenaga. Lagi-lagi, torsi besar dari motor listrik membantu tarikan roda depan. Ketika turunan menukik tajam, ada fitur hill descent control dengan tombol di sudut kanan bawah dasbor. Fitur itu membuat kaki tak perlu menginjak rem, layaknya engine brake pada mobil bertransmisi manual. Ini mengurangi ketegangan mengemudi.

Ketegangan makin mereda ketika memasuki Desa Tempur. Mata ”orang kota” ini dimanjakan dengan pemandangan alam nan elok, seperti melihat lukisan, atau kartu pos. Sawah terhampar bertingkat-tingkat, dengan aliran sungai berair bening dan bebatuan aneka ukuran. Biji-biji kopi dijemur warga di depan rumah masing-masing. Di kejauhan, terlihat Puncak 29 yang menjadi titik tertinggi Pegunungan Muria.

Tapi kami belum sampai. Peta navigasi menunjukkan titik akhir masih sekitar 8 km lagi. Mobil masih merayap dengan lebar jalan yang makin menyempit, serta tanjakan makin ekstrem. Bayangkan, di sisi kiri adalah jurang berpagar besi, sementara di sisi kanan tebing berbatu tak rata. Di sini untungnya membawa mobil yang tak lebar-lebar amat.

Tanjakan Dusun Duplak bisa dibilang ekstrem dengan aspal tak halus. Warga setempat menyediakan tong berisi air di beberapa titik untuk mendinginkan cakram rem depan motor matic jika turun dusun. Kami sempat berpapasan dengan mobil yang turun, yang memaksa untuk mengerem. Tegang. Tak masalah. Mobil tak merosot dan bisa bergerak naik hanya dengan sedikit sentuhan pada pedal akselerator. Oke, kami mulai mengakui keandalan Jolion yang dalam bahasa China bermakna ”cinta pertama” ini.

Setelah berjibaku, akhirnya sampai juga di Dusun Duplak, disambut keramahan warga. Ini di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sebelum mematikan mesin, kami sempat melihat angka-angka di layar. Jarak tempuh sejak keluar dari tol Demak sekitar 120 km dengan waktu sekitar 3,5 jam. Konsumsi bensinnya 28 km per liter. Senyum terkembang. Kesenian dan kopi panas dari kebun warga adalah bayaran yang sepadan.

Parfum Lokal Indonesia